MENGHADIRI PERAYAAN HARI BESAR AGAMA LAIN SEBAGAI WAHANA SILATURAHMI LINTAS PRIMORDIAL
Abstract
Pluralitas agama (perbedaan agama, bukan pluralisme menyakini kebenaran semua agama) di dunia merupakan sunnatullah. Tulisan ini membahas kontekstualisasi di balik perilaku muslim menghadiri perayaan hari besar agama lain. Tidak ditemukan dasar doktrinal tentang menghadiri perayaan agama lain, dan para ulama juga berbeda pendapat tentang halal atau haram menghadiri perayaraan agama lain tersebut. Maka hal yang harus dilakukan adalah dengan melakukan pendekatan budaya. Ada empat pendekatan budaya yang ditawarkan dalam tulisan ini, yaitu adaptasi, netralisasi, minimalisasi, dan amputasi. Dari empat pendekatan tersebut, penulis merekomendasikan pendekatan minimalisasi. Dalam pendekatan ini, seorang muslim diperbolehkan menghadiri perayaan agama lain sebagai bentuk penghormatan, tanpa perlu terlibat dalam ritual perayaan agama tersebut. Sikap ini dapat diikuti dengan berkunjung ke rumah  penganut agama lain, dalam rangka mewujudkan kerukunan antar tetangga atau antar umat beragama. Hal ini dilakukan sebagai bentuk aktualisasi silaturahmi lintas primordial.
Â
Kata Kunci: perayaan, hari besar, silaturahmi, primordial