KEKERASAN DALAM BERAGAMA; DISKURSUS YANG TAK BERKESUDAHAN PADA MASYARAKAT MUSLIM SUNNI VERSUS SYIAH JEMBER
Abstract
Kabupaten Jember, merupakan salah satu daerah diantara 38 Kabupaten - Kota di Jawa Timur. Jember, terletak disebelah timur Lumajang, sebelah barat Banyuwangi dan sebelah selatan Bondowoso. Jember, memiliki 31 Kecamatan, 22 kelurahan dan 245 desa, dengan jumlah penduduk 2.451.081 jiwa, dan luas wilayah 3.092.34 KM2. Di tengah-tengah masyarakat muslim Jember terdapat beberapa organisasi sosial masyarakat Islam; Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Lembaga Pembinaan Akhlak Islamiyah, al-Irsyad al-Islamiyah, Dewan Masjid Indonesia, Lembaga Dakwah Islam Indonesia, Front Pembela Islam. Dengan latar belakang etnis, ras, suku dan bahasa sebagai berikut; 1) suku Jawa, 2) suku Madura, 3) suku Arab, 4) suku China, 5) suku Bugis, dan 6) suku Papua. Dari aspek religiusitas pememeluk agama tertentu, penulis menyajikan data 8 kecamatan di Jember yang tingkat variasi keberagamaannya cukup tampak, seperti di Kecamatan Kencong, Puger, Ambulu, Umbulsari, Semboro, Kaliwates, Sumbersari dan Patrang (Sumber: BPS Jember tahun 2017: 133). Bertahun-tahun masyarakat Jember hidup berdampingan dan damai. Namun pada tahun 2013, terjadi sengketa teologis (red, konflik; antara Sunni versus Syi’ah) yang menelan korban jiwa. Secara hampir bersamaan, juga terjadi konflik di Kabupaten Sampang Madura. Durkheim mengatakan, seseorang sangat membutuhkan agama sebagai prinsip mendasar dan pedoman hidupnya. Durkheim melihat, bahwa agama merupakan kebutuhan pokok yang selalu ada sepanjang sejarah peradaban ummat manusia. Berikutnya, apakah kekerasan atas nama agama betul-betul dilandasi oleh ajaran agama, atau justru karena faktor lain seperti ekonomi, politik, pendidikan, atau faktor budaya?
Kata kunci: Kekerasan, Agama, dan benturan Muslim Sunni versus Syiah