PEREMPUAN DALAM FILM: DILEMA EMANSIPASI DAN HEGEMONI KAPITALISME

Authors

  • Muzayin Nazaruddin Universitas Islam Indonesia Author
  • Putri Zakia Salsabila Universitas Islam Indonesia Author

Abstract

Paska orde baru, film bertema Islam atau berlatar komunitas muslim marak di indonesia, dengan tema percintaan, kehidupan kelas menengah muslim, hingga pesantren. Salah satu film yang fenomenal adalah Hijab, garapan Hanung Bramantyo. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap representasi relasi suami-istri dalam film Hijab, sekaligus menguak mitos tentang emansipasi perempuan dalam film tersebut. Penelitian ini menggunakan metode analisis semiotika Roland Barthes. Analisis semiotika dilakukan pada beberapa scene terpilih dengan fokus pada perwatakan, ekspresi tokoh, posisi dan gerak tokoh, latar, kostum yang dipakai, artistik, serta teknik sinematografi. Peneliti menemukan beberapa sistem pertandaan konotatif dan mitos tentang relasi suami istri, yaitu mitos tentang kuasa laki-laki dalam rumah tangga, suami sebagai penentu keputusan dalam keluarga, suami sebagai pemberi nafkah utama, suami tidak boleh diungguli istri dalam hal pendapatan ekonomi, dan suami sebagai penentu keharmonisan keluarga. Selain itu, terdapat juga mitos tentang posisi istri, yaitu istri sebagai pengendali pengeluaran, istri harus tunduk pada perintah suami, dan istri harus multitasking. Film ini merepresentasikan budaya kelas menengah muslim Indonesia yang gagap dalam menatap emansipasi perempuan. Di satu sisi, kesadaran tentang emansipasi mendorong para istri untuk beraktivitas di luar ranah privat, dalam film ini direpresentasikan dengan membuka bisnis. Namun, di sisi lain, wacana patriarki masih kuat, membuat istri tetap harus mengurus ranah privat. Maka, perempuan memiliki peran ganda, di ranah privat dan publik. Terlebih, di ranah publik, perempuan muncul untuk menambah pendapatan keluarga, bukan peran-peran kepublikan. Di sini terlihat bahwa wacana emansipasi perempuan diringkus oleh hegemoni ideologi kapitalisme, bahwa seakan-akan perempuan harus bergerak di ranah publik, tapi sebenarnya perempuan harus menjadi alat produksi yang menghasilkan kapital.

Author Biographies

  • Muzayin Nazaruddin, Universitas Islam Indonesia
    Muzayin Nazaruddin is a lecturer at the Communication Department, Universitas Islam Indonesia. His academic interests including disaster studies, environmental communication studies, Islam and media representation.
  • Putri Zakia Salsabila, Universitas Islam Indonesia
    Putri Zakia Salsabila is a student at the Communication Department, Universitas Islam Indonesia.

Published

2018-03-20